Dia adalah pria sederhana yang masih muda dan ternyata seorang mualaf. Namanya Jon Goodell. Pria kelahiran Missouri ini masuk Islam tahun 2002 lalu. Usai bertemu dengan saya pada siangnya, Jon mengundang saya untuk dinner di kediamannya. Saya dengan senang menerima tawaran itu, tetapi sayang keingian saya untuk bertemu dengan keluarganya gagal. Pasalnya, Jon meminta maaf tidak bisa menjamu di rumah, karena anaknya masih kecil sudah tidur. Saya kemudian di ajak ke restoran China yang berada dipinggiran kota Little Rock. Kami mengobrol banyak hal, termasuk mengenai alasannya mengapa memilih Islam menjadi agamanya. Pria yang lahir dari keluarga Kristen di Kota Missiori ini mengaku, sejak lahir tidak mengikuti agama manapun, termasuk kegiatan ibadah kedua orang tua. Setelah menikah dan mempunyai anak pertama, hatinya mulai gelisah dan kemudian memilih Islam. Ketika saya bertanya mengapa memilih Islam, dia terdiam sejenak lalu menjawab, “Tidak ada alasan. Ya, saya pilih saja dan saya merasakan hati saya menjadi tentram.” Saya menyatakan, dalam Islam itu ada istilah hidayah. Anda beruntung, sebab telah memperoleh hidayah dari Allah SWT dan menjadi manusia pilihan. Saya katakan, banyak juga umat muslim yang terus bergelimang dosa sampai akhir hayatnya, tanpa memperoleh hidayah dari Allah SWT, sehingga tidak bersempat bertaubat. Saya ucapkan selamat. Kami juga berdiskusi banyak hal, termasuk soal daerah saya dan Indonesia, serta kehidupan Muslim di Indonesia. Dia menanyakan banyak hal dan saya menejalaskan semampunya. Keadanya saya memberikan sebuah souvenir kecil berupa selendang tenun dari desa kelahiran istri saya, Runggu Kecamatan Belo. Dia senang sekali dan memakainya sampai kerumah. “Istri saya pasti senang sekali,” katanya sambil mengucapkan terimakasih dan pamit setelah mengantar saya ke hotel tempat saya menginap. Selain tur, di Little Rock saya sempat ke kediaman Gubernur Negara Bagian Arkansas, Mr Mike Beebe, bertemu dengan Pemred Arkansas Times dan juga berjalan-jalan ke pasar tradisional. Sebelum meninggalkan Little Rock, saya menerima piagam dari pemerintah Negara Bagian Arkansas yang ditandatangani oleh Gubernur Mr Mike Beebe. Piagam itu diserahkan oleh Dr Walter Nunn yang didampingi oleh Tommy Priakos di Hotel Double Tree. Dr Nunn mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang besar karena telah mengunjungi negaranya. Dia menyampaikan salam hormat gubernur yang tidak sempat bertemu. Tetapi dengan diberikan piagam tersebut, kata Dr Nunn, maka saya telah dijadikan duta wisata Negara Arkansas untuk Indonesia. “Jadi Ada punya kewajiban untuk menjawab dan menjelaskan kepada siapa pun di Indonesia tentang Arkansas,” katanya dalam sambutan singkat saat penyerahan piagam. Saya juga mengucapkan banyak terimakasih dan akan berusaha mengemban amanah Negara Bagian Arkansas sesuai dengan kemampuan saya.
Sabtu, 23 Oktober 2010
Catatan Perjalanan ke Enam Negara Bagian Amerika Serikat (5)
Hampir semuanya dipasangi dengan gambar Elvis. Di museum Elvis, ternyata dikelola dengan baik. Ada yang menjual souvenir, ada radio Elvis, ada restoran, ada tempat berfoto, dan ada kunjungan ke rumah pribadi Elvis. Sepanjang kita memasuki area yang luasnya puluhan hektar tersebut, hanya terdengar lagu-lagu legendaris itu. Video Elvis pun dipanjang dimana-mana. Nyaris tak ada langkah yang tidak bertemu dengan gambar, foto, maupun identitas lain yang berhubungan dengan Elvis. Luar biasa. Elvis bukan hanya bermanfaat dan menjadi idola bagi banyak orang ketika masih hidup, ternyata setelah tiada pun, tetap menjadi idola dan bisa menghidupi banyak orang. Untuk lahan parkir saja, luasnya lebih sehektare. Coba bayangkan berapa banyak pemasukan jika setiap pengunjung harus membayar lima Dolar USA. Setelah puas mengamati dan mengabadikan kenangan di Kota Memphis, saya kemudian kembali ke Little Rock, sebab besok pagi sudah ditunggu oleh banyak kegiatan. Saya tentu saja harus menjaga stamina, karena kegiatan terjadwal yang harus daya ikuti cukup menyita tenaga dan pikiran. Saya saat ini tentu saja bukan hanya duta Bima, atau NTB, tetapi juga duta Indonesia. Banyak hal yang ditanyakan orang kepada saya selama kunjungan mengenai daerah saya, dan juga negeri kelahiran saya, Indonesia. Hari pertama program kunjungan di Little Rock, saya didampingi Tommy Priakos, dari Arkansas International Center University of Arkansas. Jam 09.00 kami meluncur ke stasiun televisi Fox 16, yang merupakan afiliasi dari Fox. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit ke arah barat menuju 10800 Colonel Glenn Road,kami diterima Mr Shane Deitert, News Managing Editor, Fox 16.
Jumat, 22 Oktober 2010
Catatan Perjalanan ke Enam Negara Bagian Amerika Serikat (4)
Saya katakan ada persepsi umum di Indonesia bahwa Amerika anti Islam, tetapi Glick menjawab bahwa sulit dibedakan kalau tindakan mereka itu adalah untuk memberantas teroris dan bukan memusuhi muslim. ''Ada ekstremis dan teroris yang kami berantas, bukan memusuhi Islam,'' katanya lagi. Saya menjelaskan, umat muslim di Indonesia juga tidak terlalu sepaham dengan serangan-serangan orang yang kemudian disebut teroris ini. Sebab terlalu banyak yang dirugikan, termasuk masyarakat Indonesia sendiri. Saya yakinkan Glick bahwa masyarakat muslim Indonesia bukanlah teroris dan tidak suka dengan tindakan teroris. Dia sangat bisa memahami hal ini dan diakuinya Indonesia harus terus membangun imej di dunia internasional. Glick sangat memahami kesulitan pemerintah Indonesia dalam membangun negeri yang besar tersebut. ''Tetapi saya memberikan apresiasi terhadap kemajuan yang telah dicapai Indonesia,'' tambahnya. Pukul 15.00, saya ditunggu Ms Gabrielle Price, Program Officer, East Asian and Pacific di Foreign Press Center. Wanita kulit hitam ini selain memaparkan banyak hal berkaitan dengan tugasnya di tempat itu, juga mengajak saya untuk meninjau press room, tempat yang kadang-kadang menyeiarkan langsung berbagai statemen dan siaran pers dari pemerintah AS, termasuk presiden AS. Pada 2 Agustus 2007, saya bertemu dengan Ms Safiya Ghori, Government Realtions Director, Muslim Public Affairs Council (MPAC). Dia banyak bercerita soal tantangannya memperjuankan hak-hak warga muslim di AS, yang menurut dia masih banyak dijumpai. Bahkan dia mengaku semakin banyak terjadi setelah kasus 11 September. Sebelum berjumpa dengan Redaktur Luar Negeri The Washington Times, Mr David Jones pada pukul 15.15, saya harus mengelilingi gedung Capitol Hill. Gedung tua kebanggaan masyarakat AS itu menjadi gedung senat dan gedung parlemen. Di gedung yang berkubah seperti masjid itu, saya sempat menyaksikan bagaimana para senator bersidang dalam ruangan yang sangat tertutupdan dijag sangat ketat. Tidak orang boleh berbisik, apalagi berbicara ketika para parlemen di negara adikuasa itu menggelar siding. Di kantor redaksi The Washington Times, Koran nomor dua setelah Washington Post di Washington, saya berbincang hangat dengan Jones. Saya banyak menanyakan soal kebijakan redaksional luar negeri korannya, termasuk soal Irak dan muslim dan sikap medianya menghadapi pemilu AS pada 2008 mendatang. Saya juga mengunjungi Voice of America (VOA) selain bertemu dengan bos VOA, juga bertemu dengan unit siaran Indonesia. Saya senang karena sempat berbincang hangat dengan puluhan kru siaran Indonesia baik radio maupun televisi di studionya. Helmy Johannes adalah sosok yang dikenal menjadi penyiar dan reporter RCTI, kini menjadi produser program siaran Indonesia VOA.
Catatan Perjalanan ke Enam Negara Bagian Amerika Serikat (3)
Kami sempat ke negara bagian Virginia, Maryland dan sempat keliling Washington DC. Ternyata hotel Jurys tempat saya menginap dekat dengan KBRI, Gedung Putih, Pentagon, dan banyak lagi kantor pemerintahan AS. Karena memang pusat pemerintahan George W Bush ada di Washington DC (District of Columbia). Penduduk Washington, ternyata tidak banyak, tidak lebih dari satu juta orang. Pada hari libur, jalan agak lengang, kecuali diisi wisatawan yang berjalan kaki mengelilingi kota kecil dari segi luas, tetapi besar perannya ini. Kita tentu saja mahfum kalau dari kota ini, dunia bisa diremote untuk bisa damai atau sebaliknya. Tidak ada kesibukan apalagi kemacetan lalulintas seperti di Jakarta misalnya. Kendaraan yang lalulalangpun tidak banyak. Karena sekarang musim panas dan waktu libur bagi sekolah-sekolah di AS, Washington juga banyak dikunjungi wisatawan. Harinya pun panjang. Pukul 20.30 malam, hari masih terang. Bandingkan dengan di Bima yang sudah gelap pukul 19.30. Senin, 30 Juli 2007, seperti jadwal yang terima di Jakarta, program dimulai. Jam 10.00 sampai 11.30, saya bertemu dengan manajer program Ms Jeana Lim dan Mr Charlie Kellet, program officer, East Asia Branch. Kami berbincang akrab, termasuk penjelasan mengapa saya terpilih dalam program ini. Kata Kellet, program ini dimulai sejak 1940 dan sudah ribuan alumni yang tersebar di seluruh dunia. Dari seluruh peserta, 200 menjadi kepala negara dan kepala pemerintahan seperti H Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri dari Indonesia, Tony Blair dari Inggris dan banyak lagi. ''Tapi kami tidak akan menekan Anda untuk menjadi presiden di Indonesia,’’ katanya. ‘’Mengapa Anda yang dipilih? Duta Besar kami yang di Jakarta tentu saja punya pertimbangan yang cermat karena Anda punya potensi dan konsisten dan punya dedikasi dalam menjalankan profesi,’’ tambahnya. Saya berseloroh, mudah-mudahan AS tidak salah memilih saya, dengan cepat dijawabnya. ‘’Tidak, ini bukan serta merta tetapi melalui pertimbangan matang dan butuh waktu yang lama,’’ tambahnya lagi. Dia menjelaskan, dalam program ini banyak sekali orang yang punya minat dan tertarik untuk berbicara dengan saya. Ada banyak alasan, selain karena mereka memang punya ketertarikan dengan Indonesia, juga ingin mengetahui budaya Indonesia dan juga sebaliknya. Ada banyak masyarakat AS yang secara sukarela ingin agar masyarakat negara lain seperti saya mengenal dan memahami AS secara lebih baik. Dalam program saya, menurut Ms Jeana Lim program manager Mississippi Consortium International Development (MCID), selain berada di Washington DC untuk mengetahui kebijakan AS secara nasional dari seluruh aspek, juga akan mengunjungi empat negara bagian lain yaitu Arkansas, Detroit (Michigan), New Meksiko, dan San Fransisco di California. Sejumlah satsiun televisi dan media cetak, termasuk VOA sudah menunggu kedatangan saya. Semua kegiatan sudah terjadwal rapi, termasuk hotel tempat menginap. Usai bertemu dengan Jeana dan Kellet, saya ke Meridian International Center.
Catatan Perjalanan ke Enam Negara Bagian Amerika Serikat (2)
Langganan:
Postingan (Atom)



